Sertipikat Elektronik, Perlukah Dikhawatirkan?

Kementerian Agraria dan Tata Ruang telah mengeluarkan Peraturan Menteri No. 1 Tahun 2021 tentang Sertipikat Elektronik. Hal ini perwujudan dari good will kementerian untuk memperbaiki layanan pertanahan melalui transformasi digital dan sejalan dengan keinginan pemerintah untuk mewujudkan pemerintahan digital melayani. Namun demikian di masyarakat banyak berkembang misinformasi terkait rencana Kementerian Agraria dan Tata Ruang untuk menerapkan sertipikat hak atas tanah elektronik tersebut (selanjutnya disebut shat-el).

Sertipikat hak atas tanah berbeda dengan uang. Uang seringkali dinyatakan tidak berlaku setelah mengalami peredaran dalam masa waktu tertentu. Sebagai contoh mata uang Rp. 500/TE 1968 - Sudirman dinyatakan tidak berlaku lagi dan harus ditukarkan paling lambat tanggal 28 Desember 2020. Selengkapnya ada pada tautan ini. Sejak tahun 1960 hingga saat ini pemerintah telah beberapa kali melakukan pergantian bentuk dan format sertipikat hak atas tanah. Namun BPN tidak pernah menyatakan bahwa sertipikat tanah yang diterbitkan sebelum perubahan format tidak berlaku dan ditarik paksa. Penggantian sertipikat hanya dilakukan apabila pemilik tanah dengan sukarela (azas consent) melakukan pergantian sertipikat karena blanko lama, rusak ataupun hilang.

Apa resiko memiliki sertipikat berformat lama? Secara umum, format sertipikat baru disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta permasalahan di masyarakat sehingga sertipikat format baru selalu lebih aman daripada format sertipikat sebelumnya. Beberapa risiko tidak dilakukannya pergantian sertipikat adalah sebagai berikut:

  • Di masyarakat masih banyak beredar sertipikat tanpa gambar. Apabila tidak dilakukan pergantian sertipikat, besar kemungkinan sertipikat tersebut belum dipetakan dalam peta pendaftaran sehingga berisiko terjadi sertipikat ganda
  • Selain tanpa gambar, juga tidak jarang ditemukan sertipikat yang belum dipetakan dalam sistem koordinat nasional yang juga berisiko terjadi sertipikat ganda karena belum terpetakan dalam peta pendaftaran

Kenapa bisa ada sertipikat yang tidak ada gambarnya atau tidak bereferensi geografis? Hal tersebut karena perkembangan teknologi pemetaan. Sebelum tahun 90-an belum tersedia teknologi GNSS (Global Navigation Satellite System). Teknologi GNSS RTK untuk pengukuran bidang tanah baru digunakan secara luas pada tahun 2000-an. Apakah semua sertipikat lama bermasalah? Jawabannya tidak, tetapi perlu diantisipasi agar tidak terjadi permasalahan dengan melakukan penggantian sertipikat. Bagaimana mengetahui bahwa sertipikat tanah sudah dipetakan atau belum dalam sistem koordinat nasional? Saat ini Kementerian ATR/BPN telah memiliki aplikasi sentuh tanahku (tersedia di playstore dan appstore) sehingga tidak perlu datang langsung ke Kantor Pertanahan untuk mengetahui status pemetaan bidang tanah tersebut.

Kembali ke Sertipikat Elektronik, apa tujuan di lakukannya perubahan format analog ke digital? Ada banyak sekali keuntungan penggunaan format digital dalam sertipikat elektronik sebagai berikut:

  • Shat-el elektronik sangat aman. Shat-el yang telah ditandatangani secara elektronik isinya tidak dapat dirubah. Artinya tidak mungkin terjadi pemalsuan data luas, kepemilikan maupun informasi lainnya yang tertera pada shat-el.
  • Verifikasi shat-el sangat mudah dilakukan menggunakan aplikasi mobile maupun web. Masyarakat umum dengan mudah bisa mengetahui apakah suatu dokumen memang benar diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional atau bukan.
  • Pengamanan shat-el dari bencana berikut pemulihannya dapat dilakukan secara instan menggunakan teknologi backup yang dari tahun ke tahun semakin matang. Tidak akan terjadi lagi kasus hilangnya dokumen pertanahan akibat tsunami seperti yang terjadi di Aceh, atau hilangnya dokumen karena kebakaran kantor banjir dan lain lain.
  • Shat-el sebagai produk layanan sangat mudah dikirimkan kepada pemohon tanpa jeda waktu yang berarti dengan menggunakan kanal komunikasi digital seperti email, MMS, maupun aplikasi chat yang populer. 
  • Shat-el merupakan bahan baku utama layanan elektronik. Saat ini layanan di BPN masih belum sepenuhnya elektronik karena format shat masih berupa analog. Transformasi digital telah dimulai dengan layanan hak tanggungan elektronik dengan bahan produk sertipikat hak tanggungan elektronik. Transformasi digital sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh ATR/BPN saja. Banyak perusahaan yang sudah lebih dahulu berhasil menerapkan layanan elektronik tanpa tatap muka untuk layanan penyewaan film, taksi, jual beli, perbankan, hotel dan lain sebagainya. Semuanya memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat dan menciptakan peluang baru dalam ekosistem ekonomi digital yang membuat Indonesia berdaya saing dalam investasi internasional. 

Mungkin masih ada yang bertanya, kenapa ATR/BPN harus menyelenggarakan layanan elektronik? Hal ini karena perbaikan layanan secara nyata lebih mudah dilakukan melalui layanan elektronik. Lesson learn dari perusahan rintisan yang saat ini berhasil menjadi unicorn melawan perusahaan yang sudah mapan (incumbent) adalah dengan memberi kemudahan dalam layanan kepada penggunanya melalui layanan elektronik. Hal ini sejalan juga dengan konsep Ease of Doing Bussiness (EoDB), Reformasi Birokrasi dan Zona Integrasi yang berujung pada peningkatan kualitas layanan publik. Kemudahan yang dijanjikan dalam layanan elektronik antara lain sebagai berikut:

  1. Kejelasan, ketepatan waktu dan biaya layanan. 
  2. Kemudahan mengakses informasi pertanahan secara akurat dan real time. Dengan layanan elektronik maka membuka kesempatan untuk menggunakan kanal komunikasi realtime seperti website, push notification, email, chat, dan lain sebagainya. Hal ini akan memberikan kemudahan kepada pengguna dibandingkan dengan penggunaan media komunikasi tradisional seperti surat atau pengumuman analog.
  3. Mengurangi tatap muka fisik antara aparatur negara dengan pengguna layanan. Pandemi covid19 membuktikan bahwa layanan yang mengandalkan tatap muka sangat riskan terhadap penularan virus corona. Dengan layanan elektronik, bekerja dapat dilakukan darimana saja tidak harus dari kantor. 
  4. Layanan 24 dalam seminggu. Dengan layanan elektronik, seluruh layanan dapat diakses oleh pemohon kapan saja dimana saja sehingga memberikan fleksibiltas kepada pengguna layanan untuk mengakses layanan. Dengan kemudahan ini, diharapkan masyarakat tidak enggan untuk mendaftar layanan pertanahan sehingga mirror principle dalam pendaftaran tanah dapat dicapai. 
  5. Penghematan ruang warkah dan arsip. Layanan elektronik dengan bahan baku dan produk  elektronik, tidak memerlukan penyimpanan fisik buku tanah, surat ukur, gambar ukur dan warkah.
  6. Kemudahan integrasi dengan layanan lain seperti data kependudukan, badan hukum, yayasan sosial keagamaan, pembayaran, perpajakan sehingga azas spesialitas dalam pendaftaran tanah dapat dicapai.

Tantangan dihadapi oleh aparatur BPN dalam mewujudkan layanan elektronik yang berkualitas dunia sangat besar. Pendefinisian bussiness process shat-el yang aman, validasi data buku tanah, pemetaan bidang tanah yang belum terpetakan dalam peta pendaftaran, inventarisasi dan antisipasi sengketa akibat data fisik. Aparatur harus melakukan mindset shifting dari semula menjadi pengguna layanan (gofood, grab, tokopedia, dll) menjadi penyedia layanan. Partisipasi masyarakat dalam mewujudkan tujuan mulia ini juga sangat diharapkan. Bentuk partisipasi masyarakat untuk memverifikasi bidang tanah (azas publisitas) dalam kondisi aturan yang menyebutkan data pertanahan merupakan data yang dikecualikan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Mendaftar sebagai pengguna Sentuh Tanahku yang terverifikasi sehingga dapat mereviu data data kepemilikan bidang tanah milik anda. Apabila ada kesalahan dapat disampaikan melalui aplikasi juga kepada ATR/BPN.
  • Mencari bidang tanah anda sesuai nomor sertipikat  pada aplikasi sentuh tanahku dan memastikan bahwa lokasi bidang tanah tersebut sudah benar.
  • Segera mendaftarkan diri sebagai peserta PTSL apabila tanah anda belum terdaftar.

Diakhir tulisan ini dapat disimpulkan bahwa pergantian sertipikat analog ke shat-el tidak akan dilakukan dengan paksaan. Sertipikat analog lama tetap berlaku sampai dilakukan layanan derivatif ke Kantor Pertanahan. Perubahan format dari analog ke elektronik di lakukan semata mata untuk perbaikan layanan dan keamanan sehingga masyarakat juga lah yang nantinya akan menikmati. Demikian, semoga bermanfaat.